Kamis, 27 Juli 2017

The Power Of Love (NaruHina Fanfiction - Last).

The Power Of Love
Disclaimer:Naruto belongs to Masashi Kishimoto.
Title:The Power Of Love.
Pairing:Naruto U & Hinata H.
Genre:Romane & Hurt/Comfort
Rated:M/T (masih bimbang).
Author: Gasuka Rin Keira.
Sumarry:Aku sangat tidak menginginkan pernikahan ini, bagiku pernikahan ini adalah neraka bagiku/PLAKKK !/ Hiksss... kau sialan/Kau yang sialan !
#GomenForBadSumarry.
Happy Reading ^^.
DLDR. 
Request by: Mirra Mirra.
**********
Last: Happy Ending + Epilog.
Songfict: Sukima Switch - Hoshi No Utsuwa.



Pria berambut kuning itu terlihat termenung di dalam kamar rumah sakit itu. Mata birunya kini, tampak menatap gadis yang terbaring itu dengan tatapan yang sirat akan penyesalan. Tangannya tampak dengan lembut menggengam lembut tangan gadis itu. Memberi kehangatan, sekaligus doa agar gadis itu segera terbangun dari lelapnya.
 
Ini sudah dua hari, genap dua hari setelah kejadian itu. Kejadian dimana pria itu dengan keji dan tak berperasaan menyiksa gadis polos itu. Sungguh, bukan ini yang Naruto inginkan. Dirinya tak pernah menginginkan hal seperti itu untuk gadis yang teramat dicintainya. Keegoisannya untuk memiliki gadis itu, membuat dirinya dan gadisnya ikut menderita bersamanya.

“Hinata, bangunlah. Aku berjanji tidak akan seperti itu kembali, asal kau sadar,” ucap Naruto lirih kepada sang gadis yang masih tidak sadarkan diri itu.
 
Aku menyesal.
Akan waktu itu.
Aku benar-benar menyesal.
Tak seharusnya rasaku, kulampiaskan padamu.
 
Aku tak pantas untuk mencintaimu.
Aku tak pantas untuk memilikimu.
Aku benar-benar tak berguna untukmu.
Aku pantas menjadi sampah dibanding menjadi rajamu.
Sudah dua jam Naruto termenung di kamar itu. Mata saphirenya yang berkaca-kaca menandakan dirinya tengah mengalami kesedihan yang sangat dalam. Tangannya tampak memegang tangan gadis itu lebih erat dari sebelumnya, berusaha untuk memberikan kehangatan agar gadis itu segera sadar dari kesakitannya itu.

“Enghhhh....”

Mendengar lenguhan yang berasal dari gadisnya, mata Naruto-pun dengan refleks menoleh ke arah gadis yang tertidur itu. Alangkah terkejutnya Naruto saat melihat gadis itu mulai menggerakkan jemari tangannya dan mengerjapkan matanya perlahan.

“Hinata, kau sudah sadar?” tanya Naruto sembari mengelus pipi gadis itu.

Selang dua detik setelah Naruto menanyakan hal itu, gadis berambut anggur itu sudah tersadar dari lelapnya. Matanya yang lesu tampak mengerling kesana-kemari untuk melihat akan apa yang telah terjadi. Dan matanya menatap lurus ke depan saat melihat suaminya ada di sana mengenggam lembut jemarinya dengan mata berkaca-kaca.

“Naruto,” panggil Hinata dengan nada lirih nan lemah.

“Hinata, kau sudah sadar?” 

Mendengar pertanyaan dari Naruto, Hinata hanya mampu mengangguk lemah sembari menatap lurus pria itu dengan tatapan setengah ketakutan. Melihat gadisnya yang sudah tersadar, Naruto hanya dapat tersenyum bahagia dan berangsur memeluk gadis itu.

Hinata yang kebingungan akan apa yang terjadi, hanya dapat terdiam sembari membalas pelukan suaminya itu. Setelah lama mereka berpelukan, Naruto-pun melepaskan pelukannya seraya menangkup pipi gadis itu sambil menempelkan keningnya ke kening gadis itu.

“Aku minta maaf ya atas yang kemarin,” ujar Naruto sambil mengelus lembut pucuk kepala Hinata.

“Ya, tidak apa-apa,” ujar Hinata singkat.

Setelah permintaan maaf antar kedua belah pihak telah diucapkan, suasana diantara mereka berdua-pun mendadak menjadi hening. Hingga, Hinata memulai percakapan antar mereka berdua.

“Naruto,” sapa Hinata kepada suaminya itu.

“Ya?” jawab Naruto sambil menatap gadis itu.

“Ajarkan aku untuk mencintaimu,” ujar Hinata dengan mata berkaca-kaca sembari mengenggam tangan suaminya dengan erat.
 
“Ya, aku akan berusaha untuk itu,” ujar Naruto sambil membalas genggaman tangan Hinata.

.
‘Dan ajarkan aku juga untuk berubah.’
-END-
 EPILOG.     
 
 Sepuluh tahun telah berlalu semenjak kejadian itu, kejadian yang telah membuat kedua insan itu sama-sama mengalami penderitaan. Namun, kejadian itu pula yang membuat kedua insan itu sama-sama mendapat kebahagiaan.


"Touchannnn!!!"

Suara cempreng kedua anak kecil tampak menggema di rumah itu. Membuat wanita serta pria berseragamkan apron itu menoleh ke belakang. Tersenyum, kedua suami-istri itu menghampiri kedua bocah itu dan memeluk mereka.

"Hima-chan anak touchan makin cantik, ya," ujar Naruto seraya mencubit pipi Himawari.
 
"Touchan," panggil seorang bocah laki-laki berambut kuning itu.
 
Naruto-pun beranjak dengan senyuman dan memeluk istri dan putra-putrinya itu.
 
Kebahagiaan itu sederhana.
Kebahagiaan itu tak susah didapatkan.
Kebahagiaan itu ada.
Ada di dalam setiap kepercayaan.
 
Bahagia adalah dimana kita.
Saling memaafkan sesama.
Saling berusaha bahagia.
Mau berubah untuk bahagia.

********
A/N: Maaf, kalau telat update karena belakangan ini aku sibuk dan maaf juga kalau epilognya jelek hehe.

#Rin.
 
 

The Power Of Love (NaruHina Fanfiction - Chapter 5).

The Power Of Love

Disclaimer:Naruto belongs to Masashi Kishimoto.
Title:The Power Of Love.
Pairing:Naruto U & Hinata H.
Genre:Romane & Hurt/Comfort
Rated:M/T (masih bimbang).
Author: Gasuka Rin Keira.
Sumarry:Aku sangat tidak menginginkan pernikahan ini, bagiku pernikahan ini adalah neraka bagiku/PLAKKK !/ Hiksss... kau sialan/Kau yang sialan !
#GomenForBadSumarry.
Happy Reading ^^.
DLDR. 

******
Chapter 5: Regret.
Songfict: Nana Mizuki - Blue Moon.

“Hiksss... Hiksss.”

Seorang gadis berambut anggur itu tampak menangis tersedu-sedu. Matanya yang tampak sembap dan memerah itu, menandakan jika dirinya habis menangis sedari tadi.

Menangis?Ya, dia menangis akibat semua perlakuan yang ia dapatkan barusan. Hinata benar-benar tidak menyangka jika suami yang teramat dibencinya itu bisa sekejam itu padanya.

‘Kami-sama, tolong aku.” Batin Hinata lirih.
Mengapa.
Kau bisa seperti itu.
Mengapa.
Kau mengoyak batinku.

Tak tahukah kau.
Aku tersakiti karenamu.
Aku tak sanggup melihat matamu.
Aku tak sanggup menatap rupamu.

Kumohon.
Hentikan.
Aku tak tahan.
Aku benar-benar tak tahan.

Sementara itu di lain tempat, seorang pria berambut kuning itu terlihat termenung di dalam kamarnya. Mata birunya itu tampak terlihat sendu nan penuh sirat akan penyesalan.

Berusaha untuk acuh, pria yang bernama lengkap Uzumaki Naruto itu-pun menyibakkan selimut putihnya untuk segera tertidur.

‘Kami-sama, kapan dia bisa menerimaku? Aku tak sanggup untuk menyiksanya lebih dalam lagi.’

Sungguh.
Aku tak sanggup.
Tak sanggup untuk sungguh-sungguh.
Menyiksamu lebih dalam, ku tak sanggup.

Namun, mengapa.
Mengapa ini sulit.
Sulit untuk mendapatkanmu.
Sulit untuk menahan hasratku.

Aku mencintaimu.
Sungguh, aku mencintaimu.
Aku tak sanggup lagi untuk menyakitimu.
Sungguh, aku ingin memelukmu.

Pagi hari telah menyapa, matahari tampak menyinari setiap sudut rumah melalui celah-celah cahaya yang sempit digudang itu.

“BRAAKKKKK... !!!!”

Suara bantingan pintu yang keras itu, sontak membuat Hinata terkejut dan segera bangun dari tidurnya. Setelah mengucek mata lavendernya, gadis itu-pun segera mendongak keatas untuk melihat siapa yang tengah menganggu lelapnya itu.

“Naruto,” gumam Hinata lirih dan setengah terkejut.
...
“Aghhh...”

Hinata hanya mampu memekik kesakitan saat sang suami secara tiba-tiba menjambak rambut gadis itu, hingga membuatnya beranjak.

“Sakit?Hm?” tanya Naruto disertai dengan seringaian iblis.

Hinata yang kesakitan, hanya mampu mengangguk pasrah sambil menatap Naruto dengan pandangan nanar. Wajah-nya yang pucat pasi, darah yang tampak mengalir setetes demi setetes dari pucuk kepalanya.

“Naruto... Sakit,” ujar Hinata disertai dengan pandangan memohon.

Melihat pandangan menyakitkan di hadapannya, tidak serta-merta membuat Naruto menjadi iba terhadap gadis itu. Dengan kasar, pria itu-pun menjatuhkan Hinata ke sebuah tumpukan kayu bekas. 

Benturan yang keras itu, membuat Hinata mendapatkan luka yang cukup parah.

“Awww...” Ringis Hinata sambil memegang sikutnya yang terluka itu.

“Sakit, hah?” Bentak Naruto sambil meludahi wajah Hinata.

“Hiksss... Kumohon, Naruto.” Mohon Hinata sambil berangsur memeluk kaki Hinata.

“Cuih!” Ujar Naruto sembari menendang dengan kasar wajah Hinata.

Hinata yang mendapat perlakuan kasar dari Naruto, hanya mampu terdiam pasrah dengan mata berkaca-kaca nan penuh rasa ketakutan. Melihat Hinata yang ketakutan, membuat Naruto semakin menyeringai puas.

“PLAKKK... PLAKKKK....PLAKKKK!”

Tamparan demi tamparan Hinata terima dari suaminya itu sehingga, pipi mulusnya yang pucat pasi itu tampak memar dan mengeluarkan sedikit tetesan dari ujung bibirnya yang pucat itu.

“Kalau kau mau memberiku cinta, mungkin kau tidak akan bernasib seperti ini!” Bentak Naruto sambil menjambak dan membenturkan kepala Hinata ke dinding.

“Arghhh....,” erang Hinata karena kesakitan yang melanda kepalanya yang tengah mengeluarkan tetesan darah segar itu.

Hinata yang tak mampu kembali menahan sakit, hanya bisa terkulai lemas hingga dirinya jatuh pingsan. Naruto yang melihat Hinata pingsan, hanya mampu membelalakan matanya. Sadar akan perbuatannya, Naruto hanya mampu berteriak histeris sambil memeluk tubuh istrinya itu. Ia menyesal, ia telah menyesal atas semua yang ia lakukan pada Hinata. Pria bermata biru itu-pun, mengangkat tubuh istrinya yang pingsan itu sembari mengecup keningnya dengan penuh rasa sesal.
“Maafkan aku, Hinata.”
-TBC-

A/N: Ini bukan chapter akhir wkwkwk. Tapi, tenang... Karena chapter 6 udah chapter akhir + epilog. Dan maaf, kalau ini gak panjang karena awalnya, aku kira bakalan panjang banget karena include chapter akhir, epilog, blablabla. Tapi, ternyata tidak.
Gomene, sudah memberi janji palsu :(.

#Rin.

Minggu, 16 Juli 2017

NejiHina Stories: Cerita di Musim Dingin.

Cerita di Musim Dingin
Image result for nejihina 
 Naruto belongs to Masashi Kishimoto.
Rate:T.
Genre: Family & Poetry.
Cast: Neji H & Hinata H.
Sumarry: Sebuah cerita klise, tentang dua bersaudara yang mampu untuk saling memaafkan satu sama lain dengan penuh cinta di musim dingin.

For #SummerForWinterHCI.

#######
Songfict: Si Qian Jin - Hai le lai de sha & Mamma Mia.
"PLAAKK... !!!"
Suara tamparan itu tampak menggema di ruangan tersebut. Seorang gadis berambut indigo tampak mengelus pipinya yang memerah akibat tamparan itu dengan pipi yang basah akibat linangan air mata.

Aku salah.
Aku benar-benar bersalah. 
Tak sepantasnya aku seperti itu.
Tak seharusnya aku melakukan itu.
 
"Neji-niisan," gumam gadis itu lirih.

"Aku kecewa padamu! Aku kecewa padamu, Hinata!" bentak Neji sambil mencengkram pipi sang adik sepupu kuat-kuat.

 Aku tahu kau kecewa.
Kecewa karena tingkah lakuku.
Yang membuatmu sedih.
Membuatmu tak sanggup menatapku.

"Maafkan aku, Neji-niisan," ucap Hinata dengan lirih.

Ya, ini memang salahnya yang telah merampas uang Neji hanya untuk wisata musim dingin dan bermabuk-mabukkan bersama teman-temannya. Ia benar-benar menyesal telah melakukan hal bodoh yang membuat Neji kecewa padanya.

Aku bodoh karena tlah mengecewakanmu.
Aku bodoh karena tak mengindahkan ucapmu.
Aku bodoh.
Namun, aku tetap menyayangimu. 

"Sudah, jangan menangis lagi," ujar Neji dengan lembut sembari menghapus air mata yang berlinang di pipi Hinata.

Hinata yang mendengarnya hanya bisa tersenyum seraya memeluk tubuh kekar Neji erat-erat.

Kau adalah seorang yang paling berharga di hidupku.
Tak mungkin ku sanggup menyakitimu lebih dalam.
Kau memang bersalah.
Namun, kau tetaplah gadis baik yang aku kenal dari dahulu. 

"Terima kasih, Neji-niisan," jawab Hinata sambil menenggelamkan wajahnya ke dada bidang sang kakak sepupu.

Neji-pun hanya bisa tersenyum sembari membalas pelukan sang adik.

"Sudah, tidak apa. Sekarang kau tidur saja ya,"  ujar Neji sambil mengelus pipi Hinata.

Hinata hanya bisa mengangguk sembari beranjak dari sana meninggalkan Neji yang masih termenung.

'Hinata, kenapa kau berubah?' batin Neji lirih.

Aku memaafkanmu.
Namun, rasa kecewa ini tak dapat kututupi.
Aku tak ingin kau berubah.
Aku hanya ingin dirimu yang sebenarnya.

Aku memang salah.
Aku memang pantas mendapat semua itu.
Namun, jika kau memaafkanku.
Aku akan membuatmu bahagia, membuatmu selalu tersenyum. 

######
Seorang gadis berambut anggur itu tampak telaten memainkan benang-benang itu. Wajahnya yang mengulas senyum indah, menandakan dirinya tengah membuatkan sesuatu yang spesial untuk seseorang.
"Selesai."

Setelah menyelesaikan hasil rajutannya, Hinata tersenyum lega seraya beranjak dari tempat itu sambil membawa syal yang telah dirajutnya.

"Semoga Neji-niisan menyukainya," gumam Hinata dengan riang.

Rajutan benang itu.
Ku persembahkan untukmu.
Di musim dingin yang indah ini.
Agar dapat memelukmu, seperti kau memelukku dulu. 

#######
Sementara itu di lain tempat, seorang pria muda berambut panjang cokelat tampak dengan serius mengerjakan dokumen-dokumen yang berjajar di meja itu. Mata peraknya tampak sesekali melirik ke arah jam tangan yang melingkar di tangannya.

"Pasti Hinata sudah lama menungguku," gumam Neji yang tengah memikirkan saudarinya itu.

Meski ini ditengah salju.
Meski ini ditengah kertas-kertas.
Namun, meski begitu.
Aku tetap memikirkan keadaanmu. 

"KRIINGGGG.... KRIINGGGG."

Mendengar ada suara deringan dari ponsel di sebelah kirinya, Neji-pun segera mengambil handphone itu tuk mengangkat panggilan tersebut. Neji-pun segera menggeser layar sentuh tersebut dan mengangkat panggilan itu.

"Hallo, apakah anda pihak keluarga dari Hyuuga Hinata?" tanya si penelpon dari seberang sana.

"Ya, saya kakak sepupunya.  Ada apa?" tanya balik Neji dengan bingungnya.

"Begini, kami dari Rumah Sakit Okayama ingin mengabarkan bahwa, saudara anda saat ini tengah berada  di rumah sakit akibat mengalami hypotermia. Terima kasih."

Setelah berhasil menyampaikan pesan, si penelpon dari seberang sana langsung mematikan panggilannya secara tidak sopan. Sedangkan Neji, dirinya saat ini hanya bisa termenung setelah mendengar kabar mengejutkan mengenai adiknya itu.

"Hinata!" seru Neji seraya beranjak dari kantor itu dengan tergesa-gesa.

Kau adalah gadis yang baik.
Di tengah hujan salju.
Kau tetap ingin membagi sayangmu.
Kau sama seperti waktu kecil dulu. 

######
Rumah Sakit Okayama (13.05 PM).
Di lorong rumah sakit itu, terlihat seorang pria berambut panjang cokelat tampak berlari dengan tergesa-gesa. Tetesan keringat dingin yang tampak membasahi wajah pucatnya, menandakan dirinya tengah dilanda kepanikan. Setelah berada di depan ruangan rawat yang ingin dimasukinnya, Neji-pun segera membuka pintu tersebut dan memasuki ruangan rawat itu dengan tergesa-gesa.
"Hinata!" seru Neji seraya berlari memeluk adik sepupunya itu.

"Neji-niisan," ujar Hinata lirih.

"Sudah kubilang jangan keluar dari rumah, di luar sedang dingin. Kenapa kau masih keras kepala, hm?" ujar Neji sambil mengelus pipi Hinata.

"Aku ingin memberi syal rajutan padamu," ujar Hinata lirih sambil memberikan sebuah syal berwarna biru kepada Neji.

Di tengah dingin kau masih berlari.
Demi memberikanku rajutan yang indah.
Demi membagi kasih sayangmu padaku.
Kasih sayang yang sejak dulu selalu kulimpahkan padamu. 

"Saat aku berada di rumah bisa, kan? Tidak perlu memaksakan dirimu seperti ini. Kau tahu, aku benar-benar mengkhawatirkanmu," jawab Neji sambil mengelus kening Hinata.

Kau masih sama.
Meski aku tlah salah padamu.
Kau masih memaafkanku.
Kau adalah pahlawan berharga di hidupku. 

Hinata hanya bisa tersenyum tipis menanggapi perlakuan Neji yang sangat overprotektif padanya.

"Neji-niisan, maafkan kesalahanku waktu itu ya."

Mendengar ucapan Hinata, Neji-pun segera mencium kening Hinata dan memeluknya erat.

"Ya, aku akan selalu memaafkanmu dan menyayangimu," ujar Neji dengan tulus sambil memeluk Hinata dengan penuh kasih sayang.

"Neji-niisan, karena diluar sangat dingin bagaimana kalau kita menyeruput coklat hangat?" tanya Hinata kepada kakak sepupunya itu.

"Apapun itu, aku akan mengabulkannya," jawab Neji sambil mengacak lembut pucuk kepala adiknya itu.

Kau tetap menyayangiku.
Aku tetap menyayangimu.
Meski badai salju menerjang.
Kau akan tetap ada di pelukku. 

******
 
 Siang telah tiba. Meski siang telah menyapa hari namun, suasana di luar bagaikan pagi yang menyapa. Di musim yang dingin itu, kedua insan bersaudara tampak asyik menyeruput segelas coklat hangat yang berada pada genggaman tangan mereka masing-masing. Sesekali di dalam ruangan putih itu, mereka tampak berbagi kehangatan dan canda tahu.
"Neji-niisan."
Mendengar ada sebuah panggilan dari sepupunya itu, Neji-pun segera menatap wajah Hinata seraya mengacak lembut pucuk kepala gadis itu.
"Aku minta maaf ya, atas kejadian kemarin," ujar Hinata sambil mengenggam lembut tangan sang kakak sepupu.
Mendengar ucapan maaf yang terlontar dari bibir Hinata, Neji-pun hanya dapat tersenyum sambil mengacak gemas rambut sepupunya itu.

"Tidak apa-apa. Lain kali, jangan ulangi lagi ya," ujar Neji lembut.

"Terima kasih, Neji-niisan."

"Tidak apa."

Dengan secangkir coklat hangat, kedua insan itu saling berbagi cerita dan canda tawa. Berbagi kehangatan satu sama lain di musim yang dingin itu. Keluarga adalah satu-satunya jalan untukmu berbagi kehangatan. Kehangatan dalam keluarga ada disaat kita mampu memaafkan kesalahan yang keluargamu lakukan dengan sentuhan kasih sayang. Kasih sayang yang hangat, sehangat cokelat di musim dingin itu.



Musim dingin penuh cerita.
Cerita warna warni.
Tentang cinta.
Yang selalu ada di hati.
Karena salju.
Adalah salah satu saksi.
Dimana dua insan bersatu.
Menyatukan kedua hati.
 
OWARI.

Jumat, 14 Juli 2017

The Power Of Love (NaruHina Fanfiction - Chapter 4).

Disclaimer:Naruto belongs to Masashi Kishimoto.
Title:The Power Of Love.
Pairing:Naruto U & Hinata H.
Genre:Romane & Hurt/Comfort
Rated:M/T (masih bimbang).
Author: Gasuka Rin Keira.
Sumarry:Aku sangat tidak menginginkan pernikahan ini, bagiku pernikahan ini adalah neraka bagiku/PLAKKK !/ Hiksss... kau sialan/Kau yang sialan !
#GomenForBadSumarry.
Happy Reading ^^.
DLDR. 

############

Sebuah cambukan besi tampak dilayangkan di punggung Hinata hingga membuat gadis itu meringis kesakitan. Ia benar-benar tidak menyangka jikalau suaminya dapat melakukan hal sekejam itu pada dirinya yang tidak mengerti apa-apa.
"Na-Naruto," lirih Hinata terbata.

"Kenapa? Sakit, sayang?" ujar Naruto dengan nada vulgar sambil menjambak rambut indigo gadis itu hingga membuatnya memekik kesakitan.

"Hiksss..." Isak Hinata pasrah.

Dengan tanpa perasaan, Naruto-pun mengangkat kasar rambut Hinata hingga membuat kepala gadis itu mengeluarkan setetes darah dari ubun-ubunnya.

"Lepaskan aku, kumohon," lirih Hinata memohon sambil menangis terisak.

Mendengar permohonan Hinata, Naruto bukannya semakin iba justru semakin menatap bengis terhadap gadis itu.

"Tidak akan!" bentak Naruto sambil melemparkan gadis itu di atas lantai yang keras itu.

"Hiksss... Sakit sekali," ringis Hinata menahan sakit.

Mendengar ringisan Hinata, Naruto justru semakin menyeringai lebar. Dengan kasar dan dingin, Naruto-pun mendekati Hinata dan menginjak tangannya yang terkulai itu.

"Kau pantas menerimanya, jalang!" seru Naruto sambil menyeringai semakin lebar.

Hinata yang mendengar ucapan pedas itu, hanya bisa menatap Naruto dengan pandangan memohon.

"Kau tidak akan mendapatkan kesempatan untuk tidur di kamar ini! Jadi, ikut aku!" ujar Naruto dengan nada membentak seraya menyeret Hinata dengan kasar.

******

"Kemana kau akan membawaku? Kumohon, lepaskan aku!" seru Hinata sambil menangis dan meronta-ronta.

Mendengar seruan Hinata, tidak serta-merta membuat Naruto jadi semakin iba padanya. Ia justru semakin mencengkram tangan Hinata semakin erat dari sebelumnya dan menyeret gadis itu dengan lebih kasar hingga membuat gadis itu kesakitan.

"Naruto, aku mohon. Aku berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama tapi, aku ingin kau lepaskan aku," jawab Hinata panjang-lebar dan tidak tergugu seperti biasanya.

"Diam kau!" bentak Naruto hingga membuat gadis itu terdiam pasrah.

Setelah beberapa lama, akhirnya mereka-pun telah tiba di sebuah gudang. Sesampainya di sana, Naruto-pun melepaskan cengkraman tangannya pada tangan Hinata untuk membuka kunci pada gudang itu dan setelah pintu gudang itu terbuka, Naruto-pun kembali menyeret Hinata untuk memasuki gudang itu.

"BRAKKKKK..... !!!"

Dengan keji dan tanpa perasaan, Naruto-pun membanting kasar gadis itu di atas tumpukan kardus itu.

"Hiksss.... " Isak Hinata yang tengah ketakutan itu.

"PLAKKKKKK!"
 
Mendengar isakan Hinata, membuat Naruto semakin geram hingga menampar gadis itu.

"Diam!" bentak Naruto hingga membuat Hinata semakin terdiam dan memeluk lututnya, ketakutan.

"..."

"Kau akan tidur disini hingga esok pagi," ujar Naruto datar seraya meninggalkan Hinata dan mengunci pintu gudang itu.

Sedangkan Hinata hanya dapat memeluk lututnya erat sambil menangis.

"Kami-sama, tolong aku."

******
Sementara itu di lain tempat, seorang pria dewasa bermata biru dan berambut kuning itu tengah temenung di kamarnya. Wajahnya yang tampan itu tampak menunduk dengan tatapan yang penuh sirat penyesalan. Ya, ia sangat menyesal telah melakukan hal itu kepada gadis yang dicintainya. Jauh di dalam lubuk hatinya, dirinya sangat ingin menyayangi gadis itu dan memberikan apa yang dia punya. Namun, buat apa dia seperti itu jika tidak ada cinta yang dia dapatkan.
'Maafkan aku, Hinata .' Batin Naruto tertegun.

To Be Countinued.

A/N: Satu chapter lagi mau tamat, loh. Pada penasaran gak sama endingnya? XD.
 

Selasa, 11 Juli 2017

The Power Of Love (NaruHina Fanfiction - Chapter 3).

The Power Of Love

Disclaimer:Naruto belongs to Masashi Kishimoto.
Title:The Power Of Love.
Pairing:Naruto U & Hinata H.
Genre:Romane & Hurt/Comfort
Rated:M/T (masih bimbang).
Author: Gasuka Rin Keira.
Sumarry:Aku sangat tidak menginginkan pernikahan ini, bagiku pernikahan ini adalah neraka bagiku/PLAKKK !/ Hiksss... kau sialan/Kau yang sialan !
#GomenForBadSumarry.
Happy Reading ^^.
DLDR.

*******
Chapter 3: Prisoner.
Songfict: Utada Hikaru - Prisoner of Love.
*****


******


Sudah genap 2 minggu pernikahan Hinata dengan rentenir itu. Pernikahan yang sangat dibencinya, pernikahannya yang membuat dirinya terkurung di dalam kamar yang luas ini. Alibi, semua yang dikatakan Naruto tentang impiannya adalah alibi. Sejak awal, Naruto sebenarnya tidak pernah sekalipun ingin memperbolehkan Hinata untuk keluar dari kamar itu, baik itu untuk mencari angin maupun bertemu dengan keluarganya. Hinata yang menyadari nasibnya yang sangat miris hanya bisa termenung sambil memeluk lututnya erat-erat.

                    
“Hiks, Kami-sama. Aku benar-benar tidak kuat lagi,” gumam Hinata berdoa sambil menangis.

Namun, sebaiknya Hinata patut bersyukur karena sampai saat ini juga Naruto belum pernah menyentuh Hinata sama sekali. Ya, meskipun dia pernah mengatakan ingin menjadikan gadis bermata lavender itu sebagai pemuas birahinya.

“Hey.”

Mendengar suara panggilan dari seseorang yang dikenalnya, sontak membuat Hinata menoleh ke samping dan menatap pria yang ditatapnya itu dengan tatapan dingin dan penuh dengan rasa benci.

“Kenapa kau menangis, sayang?” jawab Naruto seraya mendekati Hinata dan mencengkram dagunya erat-erat.

“Hiksss.... Lepaskan aku,” ujar Hinata sambil menangis terisak.

“Lepaskan? Jangan berharap begitu, dong. Kau kan istriku, mana mungkin aku dapat melepaskanmu begitu saja, hm.” Ujar Naruto sambil melepaskan cengkraman dagu istrinya dengan kasar.

Melihat sang istri yang semakin terisak, justru membuat Naruto semakin tergoda. Dengan seringaian yang penuh dengan nafsu itu, Naruto-pun mendekati Hinata seraya membelai pipinya yang tengah dibasahi oleh linangan air mata itu.

"Oh, Hinata. Kau sungguh menggoda, sayangku." Ujar Naruto menggoda sembari menjilat pipi Hinata dengan nafsu.

"Jangan dekati aku, bajingan!" teriak Hinata di depan wajah Naruto.

Merasa sakit hati akan ucapan Hinata, Naruto-pun segera berdiri dan menjambak rambut Hinata kuat-kuat hinggga membuat gadis itu memekik kesakitan.

"Beraninya kau!" desis Naruto sambil membanting gadis itu ke lantai.

"Hiksss...." Isak Hinata sambil menahan rasa sakitnya akibat kaki Naruto yang saat ini tengah menginjak tangannya.

"Kau harus mendapat hukumannya, Hinata," ujar Naruto sambil mendesis.

Mendengar kata 'hukuman' yang terlontar dari bibir pria itu, tubuh Hinata hanya mampu bergetar menahan rasa takutnya.

'Kami-sama, apa yang akan pria ini lakukan?' batin Hinata yang ketakutan itu.


"BRAKKKKKKK !!!"

-TBC-

*******

A/N: Maaf, ya pendek banget karena ini itu pemanasan di saat WB melanda wkwkwk. Mohon jejaknya hihi ^^. 

 


 

HIMAWARI NO SORA(RIN) Template by Ipietoon Cute Blog Design and Homestay Bukit Gambang

Blogger Templates